Kesenian Bangreng
Oleh : Rizky Fauzi Mulyana NIM C1A190262
Universitas Al – Ghifari, Kelas 2 C, Jurusan Hubungan
Internasional
Terbentuknya Kesenian Bangreng ada kaitannya
dengan penyebaran agama Islam di Kabupaten Sumedang. Sebelum Sunan Gunung Jati
mengislamkan beberapa daerah di Jawa \ Barat, masyarakat Sumadeng masih
menganut kepercayaan hinduisme. Untuk menghilangkan kepercayaan tersebut, Sunan
Gunung Jati mengutus empat orang, satu diantaranya bernama Eyang Wangsakusmah.
Dalam proses penyebaran agama Islam, Sunan Gunung Jati dan utusannya melakukan
pendekatan dengan dakwah yang diselingi dengan kesenian. Sarana yang digunakan
adalah Terbang. Terbang dibuat dari sisa-sisa kayu yang digunakan dalam
pembangunan masjid.
Pada abad XV pertunjukan seni
Terbang belum menggunakan kendang. Terbang yang digunakan berjumlah empat,
disesuaikan dengan jumlah utusan Sunan Gunung Jati. Memasuki abad XVII Seni
Terebang mengalami perkembangan. Kesenian ini dipentaskan pada acara-acara
keagamaan seperti mauludan, rajaban, dan hari raya Islam. Perkembangan
berikutnya seni Terebang dipentaskan pada acara kenduri, sunatan, dan
acara-acara lainnya.
Seiring perkembangan waktu, seni Terbang mengalami perkembangan, namanya berubah menjadi gembyung. Perubahan nama tersebut juga diikuti oleh perubahan alat pengiringnya seperti kulanter, goong dengan kempul, kecrek, dan terompet. Begitu pula dengan jumlah pemain dari 4 orang menjadi tujuh hingga delapan orang. Namun kesenian Gembyung hanya bertahan 10 tahun. Nama Gembyung kemudian berubah menjadi Bangreng. Bangreng merupakan kependekan dari Terbang dan Ronggeng, yaitu seni Terbang yang menggunakan Ronggeng. (Ronggeng adalah wanita yang menjadi juru sekar/menyanyi).
Seiring perkembangan waktu, seni Terbang mengalami perkembangan, namanya berubah menjadi gembyung. Perubahan nama tersebut juga diikuti oleh perubahan alat pengiringnya seperti kulanter, goong dengan kempul, kecrek, dan terompet. Begitu pula dengan jumlah pemain dari 4 orang menjadi tujuh hingga delapan orang. Namun kesenian Gembyung hanya bertahan 10 tahun. Nama Gembyung kemudian berubah menjadi Bangreng. Bangreng merupakan kependekan dari Terbang dan Ronggeng, yaitu seni Terbang yang menggunakan Ronggeng. (Ronggeng adalah wanita yang menjadi juru sekar/menyanyi).
Bangreng adalah jenis kesenian
terbang yang menggunakan ronggeng, yaitu wanita yang menjadi juru
sekar/penyanyi. Jenis kesenian ini ada di Kecamatan Tanjungkerta, Kabupaten
Sumedang. Awalnya kesenian Bangreng yang berasal dari kata terbang dan ronggeng
tersebut, pada abad XV bernama Terbang karena alat yang digunakan adalah
terbang. Seni terbang dijadikan sebagai sarana untuk menyebarkan agama Islam,
oleh Sunan Gunung Jati dan keempat utusannya. Untuk memudahkan masyarakat
menerima ajaran agama Islam, Eyang Wangsakusumah, salah satu utusan Sunan
Gunung Jati menggambarkan bahwa kata terbang yang terdiri atas 7 huruf
menggambarkan 7 hari (Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, dan Minggu) agar
melaksanakan sholat 5 waktu. Dalam menyebarkan agama Islam tersebut Eyang
Wangsakusumah menyelingi dengan lagu-lagu Islam seperti sholawat. Pada abad
XVII seni Terebang mengalami perkembangan dan dipentaskan di acara-acara
keagamaan.
Nama Terebang mengalami perubahan
nama menjadi gembyung, perubahan tersebut juga diikuti dengan penambahan
beberapa alat-alat musik, seperti goong, kulanter, dan kecrek. Namun nama
Gembyung tidak bertahan lama, dan berubah menjadi Bangreng.
Kesenian Bangreng saat ini berfungsi sebagai: Sarana hiburan, yaitu sering dipentaskan pada acara-acara pernikahan, sunatan. Sarana upacara, masyarakat Tanjungkerta menganggap bahwa kesenian terbang merupakan media komunikasi dengan karuhun, mereka juga menganggap bahwa segala kekuatan ada di luar jangkauan manusia. Maka mereka menghadirkan seni terbang sebagai acara ruwatan. Sarana pertunjukan. Bangreng dimodifikasi sedemikian rupa dan disesuaikan dengan kebutuhan pertunjukan, bahkan kadang-kadang grup kesenian Bangreng memenuhi keinginan bagi yang memanggilnya untuk pentas.
Kesenian Bangreng saat ini berfungsi sebagai: Sarana hiburan, yaitu sering dipentaskan pada acara-acara pernikahan, sunatan. Sarana upacara, masyarakat Tanjungkerta menganggap bahwa kesenian terbang merupakan media komunikasi dengan karuhun, mereka juga menganggap bahwa segala kekuatan ada di luar jangkauan manusia. Maka mereka menghadirkan seni terbang sebagai acara ruwatan. Sarana pertunjukan. Bangreng dimodifikasi sedemikian rupa dan disesuaikan dengan kebutuhan pertunjukan, bahkan kadang-kadang grup kesenian Bangreng memenuhi keinginan bagi yang memanggilnya untuk pentas.
Daftar Referensi
-
Ria Intani
T. DKK, “Kesenian Bangreng di Kabupaten Sumedang”, Laporan Perekaman
Peristiwa Sejarah dan Budaya, Bandung: BPNB Jabar, 2018.
-
Lasmiyati,
“Bangreng”, Formulir Warisan Budaya Takbenda, Bandung: BPNB Jabar, 2010
-
https://www.tradisikita.my.id/2016/09/mengenal-tradisi-seni-bangreng.html
Komentar
Posting Komentar