Langsung ke konten utama

Homo Economicus




9 april 2022

Kuda besi campur pelastik saya arahkan menuju bunderan cibiru, tepat didepan UIN Bandung, terlihat beberapa dagangan berjejer dengan berbagai macam jenis jajanan. Hingga akhirnya saya pun berlabuh disalah satu warteg (sebut saja wartin a.k.a warteg uin).

Mobilitas warga Bandung memasuki malam cukup tinggi, lalu – lalang kendaraan melaju dengan velositas rendah memburu hidangan berbuka dan takjil membuat jalanan dari ujungberung hingg bunderan cibiru macet merayap, ditambah prilaku warga yg parkir sembarangan demi memilih jajanan yg dsukai, begitupun saya, namun sebelum berlabuh diwartin, cukup lama saya menyusuri sepanjang jalan Ah Nasution untuk mencari menu andalan, jengkol. Sudah mampir ke 4 rumah makan tapi hasilnya nihil. 

Setelah beberapa dasawarsa mengitari Bandung bagian Timur akhirnya saya dapat menemukan jengkol, walaupun dengan harga yang tidak bersahabat, kerena kenaikan harga jengkol yang mencapai 90rb/kg dipasar tradisional menyebabkan pengusaha rumah makanan seperti warteg memilih untuk tidak menjual menu tersebut. Salah satu penyebabnya adalah karna musim yang membuat kelangkaan panen jengkol sedikit, Walaupun faktor dari meningkatnya harga sayuran jenis jengkol ada banyak, namun sebagai pengamat saya rasa ini ada kaitanya dengan kenaikan bbm non- subsidi. Karena semenjak naiknya bbm tersebut mulai terjadi kelangkaan bbm jenis pertalite di sejumlah titik spbu dan mungkin saja hal tersebut berdampak pada cost distribusi sayuran dari produsen ke konsumen menjadi meningkat beberapa persen.

Di Bandung sendiri, sensus penduduk tahun 2020 mencatat ada sebanyak 2,5 juta jiwa yang tinggal dikota kembang ini, dengan asumsi penikmat jengkol dibandung setengah dari total penduduk dan dengan persentase daya beli masyarakat sebanyak 80% maka ada 900ribu lebih jiwa yg meningkatkan permintaan jengkol kepada pasar. Hal ini pula yang menyebabkan ketimpangan antara penawaran dan permintaan barang, sehingga pemerintah mengambil langkah preventif dengan memperbanyak peredaran uang dalam masyarakst agar harga jengkol bisa terjangkau oleh seluruh penikmatnya.


Banyaknya peredaran uang di masyarakat ini menjadi masalah baru bagi negara, karena hal tersebut berdampak pada harga kebutuhan pokok lain jadi meningkat, hingga pada akhirnya 1 april lalu, pemerintahpun mengeluarkan kebijakan fiskal dengan meningkatkan PPN sebesar 11%.....

“Aa..” sapa ibu warteg, membuyarkan lamunan saya menganalisis pengaruh kelangkaan jengkol terhadap kebijakan perekonomian nasional.

“euuu... Iya bu, kalo makan sama jengkol berapa?” tanya saya.

“aduh ayeunamah nuju awis a, pami sareung jengkol janten 25rb” (aduhh sekarang lagi mahal a, kalau sama jengkol 25 rb) balasnya dengan mimik lesu.

“astagfirullah, seharga 2 bungkus nasi padang itumah bu,” ujar saya sinis.

“ Yaudah lauknya telor ceplok sama oreg aja, berapa?”

“siapp a, kalo sama itu jadi 20rb 😁” jawab si ibu nyengir, persis seperti koruptor berkelakuan baik yg dipotong masa tahananya.

“anjisss...” dalem hati, ternyata masih mahal pemirsah....

“ maaf a, soalnya ibu juga bingung, untuk masak kan butuh minyak, sedengkeun harga minyak sekarang keterlaluan”  bola matanya tampak 2kali lebih besar, dengan nada rendah dan kesal si ibu menjelaskan sebab musabab kenaikan harga menu masakan.

“Yaudah bungkus 1 ya bu” ini

Source :  

https://opendata.jabarprov.go.id/id/dataset/jumlah-tanaman-hasil-jengkol-berdasarkan-kabupatenkota-di-jawa-barat

https://www.harga.top/harga-jengkol/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prosa "Bebal"

... Keterbelakangan sempurna akhlak penerus abu jahal Tentang, remaja perjuangan temukan jati diri durjana Oknum goblok terbalut label agama bar bar Korporat bangsat dan sabotase moral Dan pelajar bebal berzina atas dasar nafsu duniawi Dalam kamuflase sensasi binal cinta monyet Kemunafikan birahi santri pubertas Liberalis otak jelata, bacot fasik di atas ego apatis Hari ini dan seterusnya kita rampok semua yang memuakkan...! Kita teguk semua kelabu maksiat Membakar batas monopoli para pengumpat ambisi neraka Karna kebenaranpun mungkin sudah mampus Biar tuhan tahu dan kedua malaikat idiot hanya geming menatap juga mencatat tak berdaya. persetan dengan fasis persetan dengan fanatik persetan dengan pemabuk agama tanpa implementasi Saat prediksi parameter soleh hanya omong utopis surgawi Maka dengan semua keangkuhan diri, ku mengutuk setiap hati yang di khitan taubat Kalian semua punya Hati..!! Lantas untuk apa Lurus jika Bengkok itu Indah??!! hahaha... . . . duhai sang waktu... maafkanlah...

Dampak Covid-19 Terhadap sektor Ekonomi

 Cipadung, 15 Mei 2020 Sejam lebih 1.456 detik, saya benar" terlena dengan aplikasi kinemaster, tampak jempol dan bulu mata saya pun belum menunjukan rasa lelahnya, terus mengutak atik video, yang nantinya disetor sebagai salah satu tugas mata kuliah. Awanpun mulai memperlihatkan warna merah kekuningan, atau biasa di sebut dengan "senja". huhhh... tak terasa waktu berlalu begitu cepat, hingga akhirnya video yang saya desain selesai juga 😆.... Saya yakin editor pro kinemaster akan menangis lihat karya saya ini,  begitu sempurna, indah dan abstrak. hahaha..., karena abstrak saya sengaja membuat keterangan berbentuk tulisan nya, maka silahkan simak dibawah ini Rizky Fauzi Mulyana Dampak Covid – 19 Saya ingin coba membahas dampak virus ini dalam perspektif ekonomi, di lansir oleh media media di internet  bahwa depresiasi harga minyak dunia turun drastis sampai menyentuh harga minus US dollar Bahwa para pengamat ekonomi migas pun menyatakan semestinya Indonesia bisa menurunk...